Sejarah Filosofi Dan Keunikan Rumah Adat Joglo

Posted on

Sejarah Filosofi Dan Keunikan Rumah Adat Joglo Rumah joglo banyak kita temui didaerah pedesaan. Daerah yang masih kental dengan budaya jawa dan belum terlalu terkontaminasi oleh modernisasi. Didaerah nenek moyang saya, Jepara, masih bisa kita temui deretan rumah joglo. Ada yang berkelas ningrat, ada yang sederhana. Meskipun disejeliling mereka banyak pula ditumbuhi oleh rumah bergaya modern.

Sejarah Filosofi Dan Keunikan Rumah Adat Joglo

Tapi saat ini rupanya keindahan rumah joglo mulai banyak diminati oleh para penggemar benda antik, kolektor, atau orang-orang yang memiliki kecintaan pada kesenian dan budaya jawa. Konon rumah joglo asli yang umurnya sudah ratusan tahun dengan bahan kayu jati bisa bernilai sangat tinggi jika dibanding rumah bata modern. Jika orang yang tidak bisa menikmati keindahan rumah ini mungkin akan heran. Lha wong rumah sudah tua kok mahal. Mereka tentu lebih memilih rumah modern yang lebih up to date dan tidak ketinggalan jaman.

Sejarah Rumah Adat Joglo

Sejarah rumah adat joglo – Ada hal yang  perlu anda ketahui mengenai sejarah dari Rumah Joglo. Pada zaman dahulu, masyarakat menjadikan Rumah Joglo ini sebagai sebuah simbol dari  status sosial dan finansial orang yang memilikinya,  yang dapat dilihat dari bahan bangunan yang lebih mahal dibandingkan dengan rumah lainnya.

Dan waktu untuk membangun rumah tersebut  tidaklah sebentar. Rumah seperti ini biasanya di tinggali oleh para raja, pangeran, sampai bangsawan.

Filosofi Rumah Adat Joglo

Filosofi Rumah Adat Joglo – Joglo merupakan salah satu karya arsitektur khas Jawa Tengah.  Ciri khas dari bangunan joglo dapat kita lihat pada empat tiang utama yang disebut dengan “Soko Guru”. Keempat tiang ini berada di tengah dan merupakan struktur utama dari penopang atap joglo secara keseluruhan.

Ada tiga bagian utama yang menjadi pembagi ruang pada rumah joglo. Setiap ruang memiliki fungsi khusus tersendiri. Bagian-bagian tersebut yaitu : “Pendhapa” yang berada di depan, “Pringgitan” yang ada ditengah dan “Dalem” yang merupakan area ruang keluarga yang kemudian disekat menjadi kamar-kamar yang disebut “Sentong”.

Ada nilai filososfi  dan makna yang berbeda pada tiap-tiap ruang, berikut caraprofesor.com akan mengulasnya :

Bagian Pendhapa

Merupakan area  tanpa dinding yang mengelilingi bangunan. Terdiri dari tiang penyangga dan atap saja sehingga ruang tersebut menjadi terbuka dan lapang . Filosofi yang terkandung pada ruang ini adalah ramah, terbuka, dan tidak pilih kasih dalam menerima tamu. Pada rumah joglo yang sesunguhnya, kita tidak akan menemukan mebel pada ruang ini, hanya tikar sebagai alas duduk untuk bercengkerama.

Bagian Pringgitan

Merupakan area tengah. Bagian ini merupakan bagian ruang yang berada di antara Pendhapa dan Dalem. Biasa digunakan untuk acara pementasan wayang kulit. Ini merupakan simbol kesadaran dari penghuni rumah bahwa dirinya hanyalah seorang wayang (bayang-bayang) dari Dewi Sri (Dewi Padi) yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai sumber dari kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan.

Bagian Dalem

Sedangkan untuk area privasi pemilik rumah disebut Dalem. Pada area in terdapat ruang untuk keluarga dan kamar-kamar yang disebut Senthong. Rumah joglo yang asli hanya terdiri dari tiga senthong. Senthong pertama untuk kaum laki-laki, senthong kedua dibiarkan kosong namun diisi dengan amben lengkap, dan sentong ketiga digunakan untuk kaum perempuan.

Itulah keindahan dan keunikan rumah joglo yang merupakan salah satu kekayaan arsitektur negeri ini. Meskipun saat ini banyak bermunculan rumah modern, kita masih bisa menemukan beberapa rumah joglo yang kadang malah dimodif juga dengan gaya arsitektur modern. Hal ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap peninggalan budaya yang harus terus lestari.

Demikianlah artikel tentang Sejarah Filosofi Dan Keunikan Rumah Adat Joglo Dari Caraprofesor.com, Semoga postingan kali ini bermanfaat untuk kita semuanya. Terimakasih atas kunjunganya.

Baca Juga : Manfaat dan Kegunaan Rumah Adat Joglo