Lontar Pengayam Ayam

Posted on

Pada hari raya dan upacara Yadnya di Bali, salah satu tradisi yang dilakukan adalah pengayaman ayam. Dalam tradisi ini, ayam dianggap sebagai simbol kekuatan dan keberanian, sehingga ritual pengayaman ayam dianggap penting dan mengandung makna yang mendalam.

Lontar Pengayam – Ayam

Lontar Pengayam - Ayam

Menurut Lontar Pengayaman Ayam, ayam yang digunakan untuk ritual harus memenuhi kriteria tertentu. Ayam harus berumur setahun atau lebih, sehat dan memiliki fisik yang kuat dan gagah. Selain itu, ayam juga harus diberi makan dengan makanan yang bermutu tinggi, seperti jagung dan beras, selama tiga hari sebelum pengayaman dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ayam dalam kondisi yang optimal saat ritual berlangsung.

Pengayaman ayam dilakukan di sebuah kuil atau tempat suci yang disebut dengan sanggah kemulan. Sebelum ritual dimulai, ayam diarak menuju tempat pengayaman sambil ditaruh di atas sebuah kotak atau tumpukan bambu. Kemudian, nyalakan api pada tungku untuk menghangatkan pisau yang akan digunakan untuk memenggal kepala ayam.

Momen Pengayaman Ayam

Pengayaman Ayam

Momen pengayaman ayam dimulai dengan pembacaan mantra oleh pendeta atau pihak yang memimpin ritual. Setelah itu, ayam diletakkan di atas kayu bertangkai tiga dan pengayaman dilakukan dengan menggunakan pisau yang telah dipanaskan. Setelah kepala ayam terpisah dari tubuhnya, darah ayam segera ditampung dalam sebuah wadah.

Darah ayam yang telah ditampung digunakan untuk mengoleskan tirta (air suci) atau banten (sesajen) yang akan dipersembahkan pada dewata. Selain itu, darah ayam juga dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau mengusir jin jahat yang mengganggu ketentraman lingkungan sekitar.

Baca juga  Caru Ayam Brumbun

Nilai Filosofis dan Spiritual

Nilai Filosofis

Selain menjadi simbol keberanian dan kekuatan, ritual pengayaman ayam juga mengandung nilai filosofis dan spiritual yang sangat dalam. Dalam tata cara pengayaman ayam, terdapat simbolisasi dari awal hingga akhir ritual.

Pada awal ritual, ayam diarak menuju sanggah kemulan sambil ditaruh di atas kotak. Simbolisasi ini mewakili bahwa ayam sebagai simbol kekuatan dan keberanian, dan dengan menaruhnya di atas kotak, menggambarkan bahwa ayam siap menghadapi tantangan selama ritual. Setelah itu, nyalakan api pada tungku untuk menghangatkan pisau yang akan digunakan untuk memenggal kepala ayam. Simbolisasi ini menggambarkan bahwa ayam harus dihadapi dengan cara yang tegas dan tepat.

Setelah pisau siap digunakan, pembacaan mantra dimulai. Mantra ini bertujuan untuk menghubungkan alam dunia atas dan bawah agar dapat menyaksikan ritual dan menyampaikan permohonan kepada dewata. Dalam filosofi Bali, dewata dipercaya memiliki kekuatan besar dan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

Kemudian, pada saat pengayaman, ayam ditempatkan di atas kayu bertangkai tiga. Simbol ini melambangkan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur yaitu dewa (ruh), manusia (bhuwana) dan setan (bhutakala). Pengayaman ayam juga mengandung pesan moral dan spiritual bahwa manusia harus menghadapi ketiga unsur tersebut dengan tegas dan berani.

Setelah kepala ayam terpisah dari tubuhnya, darah ayam ditampung dalam wadah. Darah ayam dikaitkan sebagai simbol kehidupan, sehingga pengumpulan darah ayam setelah pengayaman melambangkan penghormatan kepada kehidupan. Darah ayam juga digunakan untuk menyucikan banten atau tirta yang akan dipersembahkan kepada dewata. Hal ini memberikan pesan bahwa makanan dan sesajen yang dipersembahkan kepada dewata harus murni dan suci.

Kesimpulan

Kesimpulan

Ritual pengayaman ayam menjadi bagian dari tradisi hari raya dan upacara Yadnya yang masih dilestarikan hingga saat ini di Bali. Meskipun terdapat kontroversi mengenai keberadaan ritual ini, namun pengayaman ayam masih dipercaya memiliki nilai filosofis dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Bali.

Baca juga  Telur Masak Saus

Nilai-nilai itu antara lain keberanian, ketegasan, penghormatan kepada kehidupan dan dewata, serta kesucian banten dan tirta yang dipersembahkan. Namun, sebagai pengunjung atau turis, kita harus tetap menghormati adat dan budaya Bali serta tidak mencoba melakukan ritual tersebut tanpa pengawasan dan pengetahuan yang cukup.

Semoga artikel ini memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pengayaman ayam dalam tradisi hari raya dan upacara Yadnya di Bali. Marilah kita saling menghargai dan menjaga keberagaman budaya yang ada di negeri ini.

Baca tulisan lainnya seputar Ayam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *