Lanjutan Cerpen Sepatu Butut

Lanjutan Cerpen Sepatu Butut – Soal dan jawaban dari kegiatan 2 dalam buku paket bahasa Indonesia Kurikulum 2013 SMP/ MTs Kelas 9 pada halaman 84. Peserta didik diminta untuk melanjutkan cerpen yang berjudul Sepatu Butut.

Lanjutan Cerpen Sepatu Butut

Agar lebih jelas silahkan perhatikan soal dan jawaban di bawah ini !

Soal:

Kegiatan 2: Melanjutkan cerpen

Melanjutkan cerpen

Lanjutkan cerpen “Sepatu Butut” ini secara bebas atau kretifitas sendiri. Alur yang diputus adalah yang alur menuju bagian klimaks : membuang sepatu butut atau tidak membuang. Apa keputusannya dan bagaimana melakukannya? Selanjutnya tentukan bagaimana cerita ini berakhir.

Lanjutan Cerpen Sepatu Butut

Lanjutan Cerpen Sepatu Butut

Lanjutan dari soal diatas :

Aku lupa kalau Andi sedang pergi bermain sepakbola di lapangan dekat rumah. Sepatu bututnya pun sekarang tidak ada di rak sepatu. Seandainya sepatu butut itu tidak dibawa Andi, aku bisa membuangnya. Dan jika Andi bertanya dimana sepatunya itu, aku bisa saja menjawab kalau sepatunya digondol tikus atau dipungut pemulung yang lewat di depan rumah.

“Ibu,” sapa Andi pelan dan halus dari belakangku. Sangat terkejut aku mendengarnya karena sedang membayangkan skenario yang pas untuk membuang sepatunya itu.

“Baru pulang ya?” tanyaku setengah tergagap karena takut Andi tahu skenarioku, sambil melihat sepatu butut yang sedang dipegangnya.

“Iya Bu. Sepatu Andi jebol, Bu. Bubar jalan deh sepatunya, hehehe” katanya sambil membersihkan sepatunya dari bekas tanah yang menempel.

Tiba-tiba Aku ada rasa ingin bertanya kepada Andi, kenapa ia begitu sayang dengan sepatu bututnya itu.

“Ndi, Ibu boleh bertanya? Kenapa Andi tidak meminta dibelikan sepatu yang baru kepada Ibu dan Ayah? Sepatu yang ini sudah kusam warnanya dan sudah butut. Sol sepatunya juga sudah tipis Ndi. Dan lapisannya juga sudah mulai mengelupas. Apa Andi tidak malu jika memakainya?” tanyaku penasaran.

“Ahhh Bu. Ibu pasti lupa ya dengan sejarah sepatu ini? Ini kan sepatu yang dibelikan oleh nenek sebelum nenek ngga ada Bu. Saat itu nenek pulang dari rumah sakit. Saat perjalanan pulang, nenek mampir ke toko sepatu. Meski dengan susah payah, nenek masih saja memilihkan sepatu untuk Andi, Bu. Bagaimana bisa Andi bisa menggantinya dengan yang lain, Bu? Sedangkan sepatu ini adalah peninggalan nenek” katanya sambil menatap sepatu bututnya.

Seperti ada sesuatu yang menyesakkanq atau mengganjal dadaku. Hampir sudah dua tahun yang lalu, ibuku membelikan sepatu ini. Ibu berkata kalau ingin sekali membelikan sepatu untuk cucunya karena sepatu Andi yang lama sudah tidak cukup lagi. Tanpa terasa air mataku menetes di pipi.

 “Jika Ibu mau membelikan Andi sepatu yang baru, Andi mau saja kok, Bu. Tapi tolong Bu, ijinkan Andi menyimpan sepatu ini setelah mencucinya ya, Bu. Andi sangat tahu kok kalau Ibu risih melihat Andi memakai sepatu ini karena sudah butut,” pinta Andi.

“Iyaa, Andi. Andi boleh menyimpannya kok. Malah boleh sekali. Nanti sepatunya dicuci hingga bersih, kemudian dijemur ditempat yang panas, habis itu disimpan di tempat yang kering. Agar tidak mudah berjamur, atau dimakan tikus” kataku terharu.

“Terima kasih, Ibu, Andi sayang sama Ibu” kata Andi sambil memeluku.

Itulah Lanjutan Cerpen Sepatu Butut, Semoga bermanfaat 🙂